Mengenal Budaya Lewat Festival Sriwijaya XXVIII

Mengenal Budaya Lewat Festival Sriwijaya XXVIII

Penampilan Sendratasik Kolosal memeriahkan pembukaan Festival Sriwijaya XXVIII. FitrahFoto : Habib

LPMFITRAH.COM — Selama satu minggu penuh nantinya masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) akan disuguhkan beragam kebudayaan dan sentuhan ornament tempoe doeloe yang berada di seluruh 17 Kabupaten/Kota Se-Sumsel serta diikuti juga dari provinsi tetangga seperti Jambi, Riau, Pangkal Pinang, dan Metro Lampung.

Masyarakat dapat mengenal beragam kebudayaan tersebut lewat Festival Sriwijaya XXVIII yang ke-28 dengan tema besar “Sriwijaya Bangkit Maju Bersama” kegiatan itu dibuka langsung oleh Gubernur Sumsel H. Herman Deru S.H. M.M. bertempat di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Minggu (16/6/2019). 

Semarak kemeriahan event festival sriwijaya tersebut terasa lengkap karena sehari sesudah pembukaan atau lebih tepat tanggal (17/6/2019). Warga dengan julukan Wong Kito Galo tersebut akan merayakan hari jadi lahirnya kota mereka tercinta ke-1336 Tahun.

Ketua Pelaksana Olpa Syafrizal S.E.,M.Sc. dalam laporannya menjelaskan, dengan subtema “Bersatu Dalam Keragamaan Budaya” merupakan moneyfrestasi dan intreprestasi daripada visi misi Sumsel maju untuk semua dan pada pembukaan secara resmi nantinya ditandai dengan pembentangan layar kapal oleh pak Gubernur sebagai kiasaan Sriwijaya akan kembali bangkit dan mengarungi samudera membawa keagungan serta kebesaran Sriwijaya.

“Selain menampilkan berbagai macam atraksi budaya dari berbagai daerah event tersebut juga didukung oleh Dewan ke Sindenan Sumsel, Forum Olahraga Kreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sumsel dan juga ini adalah sebuah kegiatan seni alam semesta,” paparnya.

Ia juga menjelaskan, perbedaan konsep panggung yang berbeda dari sebelumnya dimana pada festival ke-28 tersebut. Konsep panggung sengaja dibentuk berbeda mencoba menampilkan konsep panggung kapal sebuah kiasan Sumsel adalah kerajaan maritime yang kuat di Sumatera dan berpengaruh di Nusantara.

“Terima kasih kepada seluruh pendukung acara sehingga dapat berjalan baik dan lancar, insyaallah sampai penutupan 22 Juni berlangsung sukses,” ungkapnya.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia padahal hal tersebut diwakili oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemsaran I (Kemenpar RI) yang ternyata merupakan asli orang wong kito galo tersebut mengungkapkan, event festival sriwijaya sudah menjadi trending topic nasional nomor 4 dan menjadi salah satu target dalam penyelengaraan Calendar of  Event (CoE) yang artinya dibahas secara nasional oleh masyarakat.

“Potensi Sumsel secara akses sudah sangat baik, transit melalui penerbangan udara maupun berkendara di jalan, sudah jauh memadai menjadi modal untuk menarik wisatawan untuk berkunjung,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, sudah masuk 28 tahun festival tersebut tidak hanya kualitas yang ditingkatkan tapi juga perlu dukungan dari segala unsur seperti pemerintah, akademik, masyarakat, bisnis, stalkholder dan media dengan bersama medukung kegiatan tersebut bisa mendatangkan wisatawan nasional maupun manca negara.

“Kerajaan sriwijaya tidak hanya jadi cerita tapi sekarang mari kita bersama-sama lagi untuk pengembangan daerahnya,” ucapnya.

Tetapi ia mengingatkan, yang harus kita benahi dan diperhatikan secara khusus secara konteks destinasi itu ada 3, yang pertama akses untuk  dari luar menuju Palembang sudah memadai tapi untuk akses menuju wisatanya kurang sehingga sulit untuk dijangkau. Kedua, atraksi wisata potensi dari berbagai tempat mungkin yang kurang ditingkatkan seperti aliran sepanjang sungai musi yang bisa ditingakatkan sekaligus memperbaiki aliran di sepanjang sungai musi. Ketiga, ameditas pembangunan komplek jakabaring dengan biaya yang sangat besar harus dimanfaatkan wisata olahraganya.

Gubernur Sumsel H. Herman Deru dalam sambutannya menceritakan sejarah Palembang, 14 abad yang lalu berdasarkan peninggalan prasasti kedukaan bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang lahir kerajaan besar yang mampu mengubah peradabaan di kawasan asia yakni kerajaan sriwijaya, kehadiran kerajaan sriwijaya ditandai dengan hadirnya beberapa prasasti yang ditemukan.

“Kita harus belajar dari masa lalu belajar bukan berarti kita mengalami kemunduran, melainkan sebagai upaya mewujudkan langkah-langkah kita dalam membangun bangsa dan negara,” tutupnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, Palembang merupakan kota tertua di Indonesia dan saat ini masih meninggalkan peninggalan masa lalu kerajaan baik yang sudah ditemukan maupun yang masih terpendam. Setidaknya hingga saat ini ada 3 hal besar yaitu 1. Kerajaan sriwijaya berjasa dalam kesatuan dan persatuan, 2. Kemaritiman dan hubungan internasional melalui jalur perdagangan dan pendidikan, 3. Mencontohkan kehidupan bertoleransi dan multicultural.

“Banyaknya temuan keberadaan sriwijaya menegaskan bahwa kita adalah ahli waris dari bangsa besar yang mampu mewarnai perjalanan peradabaan dunia,” pungkasnya.

Reporter : Habib Dhia Rabbani
Editor : Tria Millenia