Berawal Dari Kantin

Berawal Dari Kantin
Foto : Ilustrasi Net

Pagi yang cerah, nampak berduyun-duyun mahasiswa memasuki Halaman Kampus Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) yang luas, mobil-mobil berjajar rapi di parkiran yang bersih. Ku lihat beberapa Mahasiswa/i berjalan dengan raut muka semangat. Semangat mereka terlihat hangat laksana sinar mentari pagi ini.

*************

Aku pun melangkahkan kaki dengan cepat, dikarenakan ada urusan administrasi yang perlu diselesaikan di Kantor Fakultas. Setelah itu aku akan menemui mahasiswa semester 4 (empat) untuk melihat beberapa Mata Kuliah yang ada di Kartu Rencana Studi (KRS) mereka, terserah siapapun mahasiswanya. Sebenarnya bukan mata kuliahnya saja yang ingin ku lihat, tapi dosennya juga. Aku sempat beberapa kali tak lulus mata kuliah, bukan karena aku tak mampu, tapi beberapa pendapatku tak selaras dengan pendapat dosen yang hanya terpaku dengan doktrin buku.

*************

Urusan administrasi telah ku selesaikan, walaupun sempat bersitegang dengan stafnya. Ku putuskan singgah di Kantin yang berseberangan dengan kampus. “Menyeruput pahitnya kopi nampaknya menarik”, pikirku sambil berjalan menuju kantin langganan. Kantin ini punya Pak H. Ridwan, karena tak punya nama jadi ku sematkan nama “MLB”, singakatan dari “Murah Lemak Banyak”. Bukan hanya itu, kantin ini juga cocok bagi mahasiswa semester akhir seperti aku.

*************

Beberapa mahasiswa yang ku kenal langsung menyapaku, maklum aku mahasiswa senior akut di kampus ini. Ku ajukan pertanyaan kepada salah satu mahasiswa, “ado kenalan mahasiswa semester 4 dak ?”. Tanpa dipinta, tiba-tiba salah seorang adik tingkat yang pernah satu kelas dengan ku menjawab, “ini kak” sambil telunjuknya mengarah ke wanita tak jauh dari tempatku duduk. Ku ikuti arah ujung telunjuknya dengan lirikan mata, ku lihat seorang wanita sedang ngobrol dengan beberapa temannya, wajah wanita itu sangat familiyar, tapi aku tak mengenalnya. Wajahnya bersih, jilbab warna pink yang dikenakannya menambah rona putih semu kemerahan mukanya, sesaat kemudian ia tersenyum nampak lesung pipit di pipinya.

*************

Aku merasa detak jantungku bergemuruh, waktu seakan berhenti. “Ini kopinya”, tiba-tiba Pak H. Ridwan muncul. “Ah… Pak Haji dak tepat nian munculnyo”, ucapku sambil tertawa. Padahal baru saja aku akan menemukan adegan-adegan yang sering muncul di sinetron yang sering ku tonton. Tanpa menghiraukan kopi, aku langsung mendekati meja wanita tadi. Langsung saja ku tanya, “kamu semester 4 yo, boleh aku liat KRSnyo ? aku mau liat mata kuliah apo be di semester 4 ini yg biso ku ulang“. “Iyo bener kak, bentar kak yo aku buka file pdfnyo dulu”, wanita itu responnya cepat sambil tangan kanannya buka handphone dan kelihatan seperti menteliti folder handphonenya. Aku hanya diam sambil memperhatikan jemarinya yang putih bersih saat itu ketika ia sibuk dengan handphone-nya.

*************

Setelah beberapa detik ia sodorkan handphonenya sambil berkata “ini kak”. Ku terima handphone itu, lalu aku teliti beberapa mata kuliah beserta dosen pengampunya. Setelah membaca dengan teliti aku keluarkan handphone untuk memfoto file pdf tersebut. Tapi tiba-tiba wanita itu mencegah, “kak biar aku cari nomor kakak di grup be, gek ku kirimkan ke WhastApp (WA) kakak“. Aku bertanya dengan ekspresi heran, “emangnyo kito satu grup yo, grup apo ?”. Ia tersenyum, “kakak lupo ye dengan kami ?, kakak namonyo Akhyar kan ?, semester tigo kemaren kito sekelas kak, mata kuliah masa’ilul fiqhiyyah, terus tu kakak pernah bantai makalah kami pas kami persentasi makalah”. Aku hanya mengernyitkan dahi, tanda bahwa aku bingung dan tak mengingat apa-apa. “Ooh maklumlah kakak lah mulai tuo jadi agak pelupo” candaku menghilangkan kebingungan. Beberapa detik kemudian notifikasi WA masuk muncul di layar handphone-ku, ternyata nomor baru mengirimkan pesan yang isinya pdf KRS. “Sudah masukan kak ?”, tanya wanita itu. Ku jawab dengan anggukan kepala. “Terimokasih banyak yo”, ucapku sambil berjalan balik ke meja ku tadi. Terlihat kopi di atas meja masih mengepulkan asapnya.

*************
Jam dinding di kamar ku menunjukan pukul 2 (dua) pagi. Sambil menyeruput kopi ku buka kembali chat di WA, aku buka nomor WA wanita kemarin pagi, ku buka profilnya, sial keterangan namanya hanya dua huruf “NA”. Aku tak tahu nama wanita itu, bertanya juga malu. Akhirnya ku putuskan untuk save nomor wanita itu. Berhubung aku tak tahu nama wanita itu, jadi aku simpan nomornya dengan nama UMP Minta KRS. Dari lubuk hati yang paling dalam aku berharap wanita itu akan menjadi tulang rusuk-ku. Mungkinkah…. ?

Bersambung… !

Penulis : Jondy Mukthiar Saputra
Editor : Tria Millenia