Tindak Lanjut Kecurangan Peserta Tes TOEFL

Tindak Lanjut Kecurangan Peserta Tes TOEFL

Peserta saat sedang mengisi soal tes TOEFL, Minggu (26/5/2019). FitrahFoto : Habib

 

LPMFITRAH.COM — Tes TOEFL merupakan tes yang berfokus terhadap kemampuan mahasiswa dalam Berbahasa Inggris. Selain untuk syarat dalam mendaftar pekerjaan, TOEFL tersebut juga bermanfaat bila ingin melanjutkan ke strata peguruan tinggi selanjutnya dengan menimbang berbagai aspek seperti: pandai mengolah tata bahasa (Grammar), kepekaan dalam mendengar (Listening), kecakapan dalam membaca (Reading) dan keahlian dalam menulis (Writing).

Kepanjangan dari TOEFL ialah, Test of English as a Foreign Language adalah tes kemahiran berbahasa Inggris yang dibagi menjadi 3 jenis, Paper-Based Toefl (PBT), Computer-Based Toefl (CBT), dan Internet-Based Toefl (IBT). Khusus untuk Indonesia, yang paling populer adalah PBT dan IBT. Perbedaan diantara keduanya terletak tidak hanya pada jenis media yang digunakan, dimana yang satu menggunakan pensil dan kertas, sedangkan yang lainnya menggunakan internet, tapi juga pada jenis soal yang diteskan.

Sebagian dalam kalangan mahasiswa menanggapi tes TOEFL tersebut seperti biasa-biasa saja, padahal TOEFL sangat berarti bukan sedekar mengandalkan sertifikat yang diberikan oleh lembaga yang melaksanakan tetapi ilmunya sangat berarti sampai kapan pun.

Dalam dunia perkuliahan, tes TOEFL sudah menjadi agenda rutin untuk dilaksanakan, bila ingin mengikuti ujian komprehensif harus wajib mengikuti tes TOEFL. jJka tidak, mereka gagal mengikuti ujian Komprehensif karena tidak memenuhi syarat.

Hal tersebut tidak berlaku untuk mahasiswa yang sudah memasuki semester lanjut. Tes itu sendiri juga berlaku untuk mahasiswa baru yang sudah memasuki semester satu dan dua. para mahasiswa baru tersebut harus mengikuti TOEFL agar dapat mengetahui kemampuannya dalam berbahasa Ingggris.

Itulah yang mendorong Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) untuk mengadakan tes TOEFL sebagai agenda wajib agar dapat mengetahui kemampuan mahasiswa serta pemetaan dalam berbahasa Inggris yang dimiliki mahasiswa/i.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) setiap tahun selalu menjadi tuan rumah penyelengaraan agenda rutin tersebut selain sesuai dengan apa yang diadakan. Selama menyelengarakan kegiatan tersebut pasti ada sesuatu yang menganjal sehingga menjadi problem dan harus di evaluasi.

Tindakan kecurangan pasti ada setiap tes apapun itu. Seperti kasus mahasiswa mengikuti tes TOEFL di FKIP Minggu, (26/5/2019) lalu, pukul 10:00 WIB yang tidak diketahui identitasnya tertangkap tangan membuka handphone saat mengikuti ujian tersebut.

Semua itu baru terungkap saat Reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Fitrah UMP meliput kegiatan tersebut dan mengambil gambar yang ada di ruangan dan langsung mempostingnya ke Media Sosial sebagai bahan informasi.

Dalam foto yang di posting di Instagram LPM Fitrah UMP tersebut terlihat seorang wanita yang duduk di pojok kiri kedapatan kamera sedang membuka handphone, dimana pada saat itu ujian tengah berlangsung.

Mengenai hal itu, Kepala Lembaga Bahasa Rini Susanti, S.Pd.,M.A lan
gsung angkat bicara. Ia mengatakan, apabila benar mahasiswa tersebut melakukan tindakan kecurangan dan ada bukti yang valid akan segera ditindak lanjut sesuai prosedur.

“Tindak lanjut itu bisa berupa tidak dikeluarkannya sertifikat dan pihak yang terkait akan dipanggil dekan fakultasnya,” jelasnya saat diwawancarai Reporter LPM Fitrah UMP.

Ia juga menambahkan, bila mahasiswa mencontek ketangkap tangan maka kertas lembaran jawaban nya akan di ambil ,tapi bila ketahuan via CCTV akan di tindak lanjuti lebih berbeda , karena tidak dipungkiri setiap tes pasti ada kecurangan dan itu hal memang wajar.

“Kejadian ini akan jadi bahan pembelajaran agar pelaksanaan tes TOEFL selanjutnya bisa di minimalisir,” pungkasnya

Reporter : Habib Dhia Rabbani
Editor : Tria Millenia