Mengawal Teriakan Keadilan

Mengawal Teriakan Keadilan

 

Aksi Mahasiswa IMM menuntut keadilan bertempat di depan Kantor Bawaslu Sumsel, Senin (20/5/2019) FitrahFoto : Pebri

 

LPMFITRAH.COM–Tepatnya pada Senin (20/5/2019) pukul 10.00 WIB ketika saya sampai di Kampus Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP). Saya dikejutkan dengan beberapa spanduk yang menunjukan protes menuntut akan sebuah keadilan, diusung oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Saat itu saya mencari informasi apa yang sebenarnya terjadi di kampus. Ketika saya sedang membaca spanduk tersebut, terdapat brosur yang tertempel di spanduk tersebut bawasannya akan diadakan aksi di kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Sumatra Selatan (Sumsel) siang ini.

Terdapat salah seorang mahasiswa didekat lokasi spanduk itu.

“Selamat siang kak,” sapaku

“Kalo boleh tau aksinya jam berapa ya ?,” tanyaku

“Siang kembali, Oh aksi kita mulai jam 13.00 WIB,” jawabnya saat ditanya.

Ketika mendengar info itu, saya dan kawan-kawan pun bergegas menyiapkan diri untuk menghadiri aksi tersebut. Pada saat itu yang kami persiapkan bukan hanya sekedar peralatan tetapi juga mental dan fisik yang kuat, mengingat aksi diselenggarakan mahasiswa tersebut dilaksanakan pada siang hari dibulan ramadhan.

Dirasa semuanya siap, kami pun menuju lokasi Kantor Bawaslu Sumsel yang bertempat di Jalan Opi Raya Jakabaring Kelurahan 15 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I Sungai Kedukan Rambutan Kota Palembang dengan menggunakan sepeda motor yang kami miliki.

Pada saat dijalan, hujan pun turun dari langit membasahi kami. Tapi itu tidak membuat kami membatalkan niat untuk tidak menghadiri acara aksi tersebut. Kami terus melaju dengan kecepatan tinggi dan berharap agar hujan cepat redup dan tidak membasahi baju.

Sesampainya di depan Kantor Bawaslu Sumsel hujan pun berhenti. Segera kami parkirkan motor di dekat pos polisi yang ada disana.

Terlihat banyak sekali anggota polisi yang berjaga. Mereka berharap agar aksi yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tersebut berjalan dengan lancar tanpa anarkisme dari pihak mahasiswa.

Kami pun melangkahkan kaki mendekati para anggota polisi dan para demonstran.

“Siang kak,” sapa saya lagi kepada salah seorang Polwan disana

“Siang juga, ngapain kamu nih, ajak teman-temannya pulang,” jawab seorang polwan dengan nada yang lumayan tinggi.

Polwan itu pun mengataaka, bahwa ia merupakan alumni dari Universitas Muhammadiyah Palembang dan menegur kami untuk mengajak para demonstran membatalkan niatnya untuk aksi.

Tanpa sempat kami sampaikan permintaan itu, para demonstran pun sudah melakukan orasi di depan Kantor Bawaslu Sumsel.

Dalam orasi tersebut, mereka mengeluarkan semua aspirasi dan tujuan aksi yang dilakukan mereka.

Semakin memanas, polisi pun kembali menambah personilnya dan berbaris tepat di depan para demonstran. Terlihat yang ada dibarisan paling depan itu adalah polwan semua tanpa adanya polisi laki-laki dibarisan tersebut.

Kemudian terlihat salah seorang polisi menjumpai salah seorang demonstran untuk membicarakan suatu hal.

Kami pun mendekat dan bertanya kepada para demonstran, kesepakatan apa yang telah mereka buat.

“Tadi bahas apa kak ?,” tanyaku.

“Ohhh, kata pak polisi tadi kita bisa menemui pimpinan yang ada di dalam tapi syaratnya maksimal orang 10 yang bisa masuk,” jawab salah seorang demonstran.

10 orang perwakilan dari demonstran itu pun melangkahkan kakinya untuk  memasuki kantor Bawaslu Sumsel.

Menanggapi hal tersebut saya pun ikut melangkahkan kaki untuk ikut memasuki kantor Bawaslu Sumsel. Setelah sampai didalam, para demonstran disambut oleh pihak Bawaslu dan langsung disuruh duduk oleh pihak yang ada disana.

Ketika para demonstran duduk, datanglah staff komisioner menghampiri kami dan serentak saya dan kawan kawan pun membuka tas untuk mengambil kamera yang telah disiapkan. Dengan cepat saya mengambil gambar staff komisioner tersebut.

Ketika staff komisioner mendatangi para demonstran, terjadilah sebuah mediasi dari pihak Bawaslu dan demonstran.

Para demonstran dipersilakan menyampaikan aspirasinya. Pada saat itu, terlihat salah satu demonstran angkat bicara. Supriadi Nurhusaini selaku Koordinator Aksi tersebut mengatakan, kami datang kesini dengan tujuan dan visi yang sama dengan beberapa tuntutan.

Pertama, tuntutan meminta bawaslu sumsel mendesak bawaslu pusat dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI) netral. Kedua, mendesak Bawaslu untuk mengaudit ulang hasil situng. Ketiga, meminta KPU untuk melakukan audit forensik atas kematian para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan Keempat meminta bawaslu sumsel untuk menghentikan hasil quick count agar tidak menimbulkan pergesekan.

“Semoga tuntuntan itu bisa dipahami dan dituntaskan agar demokrasi ini berjalan tanpa adanya pelanggaran yang membuat kegaduhan,” harapnya.

Ia juga menambahkan, penyelengaran Pemilihan Umum (PEMILU) tahun ini merupakan yang terburuk karena banyak berita-berita yang tidak benar dan banyaknya petugas Kartu Perlindungan Sosial (KPS) dan KPPS meninggal akibat penyelegaran pemilu tersebut.

“Petugas KPS dan KPPS yang meninggal akibat bertugas masih menunggu hasil kopensasi walaupun ada hasilnya tidak besar,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Junaidi selaku Staff Komisioner menjelaskan, KPU dan bawaslu wajib netral karena sudah tugas dari bawaslu. Bila ada yang melanggar akan diberhentikan secara tidak hormat dan input situng bukanlah tolak ukur segalanya, karena situng cuma hanya hasil hitung-hitung sementara untuk mendata surat suara yang masuk.

“Bila ini menjadi tanggung jawab bawaslu maka akan diselesaikan, tetapi bila bukan tanggung jawab kami, kami akan mengalihkannya,” jelasnya mengenai tentang kematikan para petugas KPPS.

Mendengar hal itu, para demonstran merasa kecewa. Mereka merasa perjuangannya pada hari itu belum membuahkan hasil.

Terlihat wajah murung ketika para demonstran keluar dari kantor Bawaaslu, Akan tetapi mereka juga bangga karena sudah terjun langsung kelapangan untuk menyampaikan aspirasi dari rakyat.

Semua para demonstran melangkahkan kakinya menuju lapangan depan kantor Bawaslu. Mereka bergegas mempersiapkan barang dan kendaraannya untuk kembali pulang ke kampus Universitas Muhammadiyah Palembang.

Sebelum para demonstran naik ke kendaraannya, terdengar suara sorakan dari para mahasiswa kepada aparat kepolisian.

“Terimakasih pak polisi,” teriakan dari para mahasiswa setelah berakhirnya aksi pada hari itu.

Mereka pun naik ke kendaraannya masing masing dengan damai, dan langsung berjalan mengantarkan para mahasiswa kembali ke Universitas Muhammadiyah Palembang.

 

Penulis : Muhammad Pebriansyah
Editor : Rika Oktarina