Dialog Ramadhan dengan mengangkat tema, Pendekatan Lanskap Menyelamatkan Identitas atau Ekonomi?, Sabtu (18/5/2019). FitrahFoto : HabibDr

 

LPMFITRAH.COM — Dalam Prakteknya, pendekatan lanskap merupakan upaya kolaborasi antara beberapa pihak untuk melaksanakan konservasi pada tingkat lanskap.

Sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan, pendekatan lanskap masih kontroversi. Itu dibuktikan dengan banyak kepentingan dari berbagai pihak yang ingin menjaga bentang alam dan disisi lain pihak yang mencari keuntungan dengan mengatas namakan perkembangan ekonomi lebih maju.

Conie Sema Budayawan sekaligus pengagas Teater Potlot menjelaskan, akan terjadi dualisme antara makhluk pribumi yang tinggal disana dengan perusahaan yang mempunyai kepentingan bila lanskap disalah artikan karena disana pradapan masa lalu masih sangat kental.

“Sisi budaya bentang alam yang majemuk dan heterogen dari biotik dan abiotik masih sangat terjaga bila ada orang asing datang dan mengubah bentang alam itu akan memicu perdebatan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, Teater Potlot adalah salah satu contoh dalam memproses refleksi kebudayaan dengan mengangkat isu lingkungkan hidup bukan untuk memecah-belah, tapi sebagai aksi dalam menjaga lanskap yang ada agar tidak salah artikan oleh para pemilik kepentingan.

“Dengan teater potlot membudayakan konservasi lingkungan dan budaya, menyelamatkan identitas yang menjadi ciri khas membangun penyadaran akan bentang alam,” paparnya.

Di tempat yang sama Taufik Wijaya budayawan Mongabay Indonesia menurutnya, konsep tata bentang alam ini selalu berubah harus ada kajian-kajian pola dalam mengolahan lahan agar bisa di sesuaikan sehingga menciptakan pengolaan lanskap keberlanjutan (Landscape Approach).

“Bila ingin melakukan rencana kelola harus di mediasi kepada para masyarakat yang tinggal disana dengan begitu tidal akan menimbulkan perdebatan hingga pertikaian,” ungkap Taufik.

Dengan cara menyelamatkan identitas dengan tidak menyajikan kekayaan tapi memperlihatkan kemakmuran sehingga dualisme komersil dan konservasi ini pun bisa diajak bersama dalam satu ideologi agar bentang alam yang multikultural tidak hilang.

Reporter: Habib Dhia Rabbani
Editor : Tria Millenia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *